Geopolitik, narasi, kendali

Kucing hitam atau putih, intinya tetap bisa menangkap tikus.

Sonny Majid
image

Dalam tulisan pertama buku ini yang berjudul "Politik Bebas Aktif yang Main Zig-Zag," Muhammad Suryadi R langsung mudah dipahami. Pandangan saya langsung mengarah pada sebuah narasi pada judul dalam "Seni Zig-Zag dan Logika Kucing Deng Xiaoping." 

Adi-demikian sapaan akrabnya, menyampaikan tentang istilah seni main zig-zag sering kali dianggap peyoratif jika tidak ingin dikatakan sebagai istilah belaka, yang seolah-olah menunjukan sikap tidak konsisten. Sebaliknya, strategi zig-zag sebagai sebuah seni bermanuver.

Pandangan itu setidaknya menegaskan, dalam kondisi politik global hari ini, tidak akan memberi ruang kepada  negara-negara kelas menengah yang bersikap kaku. 

Lantas bagaimana dengan Den Xiaoping, pemimpin China (Tiongkok) kala itu, Adi yang kelahiran Barru, Sulawesi Selatan ini menceritakan bagaimana pemikiran Den Xiaoping masih relevan. Melalui ungkapannya tentang kucing hitam atau putih yang penting tetap bisa menangkap tikus, mencerminkan pragmatisme yang beriorientasi hasil. 

Disitulah Adi menegaskan, bahwa dalam kebijakan luar negeri pertanyaan utamanya bukan siapa kawan ideologis, tetapi apakah kebijakan tersebut memberi manfaat nyata bagi negara. Jika dikaitkan dengan Indonesia, zig-zag adalah cara membaca momen, kapan harus mendekat, kapan menjaga jarak. Kapan berbicara lantang, kapan memilih diam. 

Deng Xiaoping berhasil melepas China dari kubangan kemiskinan dengan sistem kapitalismenya. Sedangkan untuk mengendalikan stabilitas politik di negaranya, Deng Xiaoping menerapkan sistem komunismenya ditopang dengan gaya kepemimpinan otokratik yang kerap digunakan negara-negara komunis. Jika Adi menyebutnya sebagai kucing hitam atau putih, banyak kalangan mengutarakan sebagai politik Panda dan politik Naga. 

Benak saya langsung tertuju pada Presiden Prabowo Subianto. Jika membaca rentetan kebijakannya, sepertinya Prabowo mengadopsi cara Deng Xiaoping. Prabowo ingin menerapkan konsep kapitalisme negara (capitalism state), sebuah konsep yang melibatkan negara ikut campur dalam kegiatan perekonomian khususnya pengelolaan sektor-sektor produksi.

Alhasil yang dilakukan Prabowo itu dinilai bertentangan dengan konsep pasar bebas, yang selama ini memberikan banyak keuntungan bagi para elite-elite kekuasaan era-era sebelumnya, plus para konglomerat hitam.

Dengan begitu, jangan kaget jika kita hari ini dipertontonkan kegaduhan para elite kekuasaan. Kebijakan Prabowo patut diduga mendapat perlawanan sengit dari kelompok oligarki, kelompok elite pemburu rente-bermental komprador yang berselingkuh dengan para konglomerat hitam. Mereka merasa terganggu dengan kebijakan Prabowo karena tidak terlalu menguntungkan.

Tapi Prabowo lupa, saat Deng Xiaoping menerapkan strateginya membangun China, Deng telah lebih dulu  menerbitkan aturan menembak mati bagi para pejabat negara yang diberikan kekuasaan jika terbukti korupsi. Sementara kita di Indonesia, masih berjibaku dengan pencitraan politik dan tarik-ulur RUU Perampasan Aset.

Baca Juga Artikel Lainnya

Lihat semua →