Trump marah pada Indonesia?
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Melalui media sosial pribadinya, ia menyampaikan kekecewaan dengan gaya yang tegas "Indonesia adalah bangsa hipokrit" duh.
Sebelum membaca perlu ditegaskan dulu, bahwa tulisan ini adalah sebuah refleksi dari berbagai kejadian. Dalam politik nasional maupun regional bahkan global, kronologi sering kali tampak seperti rangkaian peristiwa yang di baliknya, selalu ada tafsir, kepentingan, dan persepsi yang saling bertabrakan.
Publik seperti biasa berdiri di tengahnya, mencoba memahami mana fakta, mana opini, dan mana yang sekadar gema dari ruang yang terlalu bising.
Sebuah peristiwa dan suasana terasa biasa, hingga sebuah kabar pelan-pelan menemukan jalannya ke ruang publik. Disebut-sebut ada pertemuan antara Menteri Pertahanan Republik Indonesia dengan Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Lloyd Austin. Dari percakapan yang belum sepenuhnya terang itu, terselip isu tentang kemungkinan penggunaan ruang udara Indonesia oleh pesawat tempur Amerika.
Tak ada yang benar-benar meledak di hari itu, tetapi kegelisahan seperti disimpan diam-diam oleh banyak orang. Sebab bagi bangsa yang panjang sejarahnya tentang kedaulatan, kabar semacam ini selalu punya gema yang lebih dalam dari sekadar berita. Masak segitunya bangsa kita ini?
Gelombang itu akhirnya tampak di permukaan. Berbagai suara penolakan muncul dari publik. Tidak selalu keras, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa ada yang tidak nyaman. Publik rasan-rasan dari ruang sunyi karena takut terjadi penangkapan seperti biasanya.
Menteri Luar Negeri, Sugiono, mencoba memberi penjelasan. Ia mengatakan bahwa semua masih dalam tahap pendalaman. Kalimat itu terdengar tenang, tetapi di telinga sebagian orang, dia justru terasa menggantung, seperti jawaban yang belum selesai.
Kemudian respon datang dari jauh, dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Melalui media sosial pribadinya, ia menyampaikan kekecewaan dengan gaya yang tegas "Indonesia adalah bangsa hipokrit" duh. Bagi Trump, perjanjian adalah soal kepastian dengan cara ditandatangani atau tidak. Artinya perjanjian kedua negara tidak mungkin abal-abal bukan? Hmmmmm.
Sementara bagi Indonesia, kehati-hatian sering kali menjadi bagian dari proses. Di titik ini, perbedaan cara pandang terasa bukan sekadar teknis, tetapi juga kultural. Pasti saja doi marah sesuai kebiasaannya semua dikomen dan semua jadi urusan hehehehee.
Di tengah riak itu, Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan ke Prancis. Agenda kenegaraan berjalan sebagaimana mestinya, namun ruang publik Indonesia justru disibukkan oleh hal yang lebih personal yaitu perayaan ulang tahun Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya.
Foto-foto yang beredar menghadirkan kesan yang beragam. Ada yang melihatnya sebagai momen biasa, ada pula yang memberi tafsir lebih jauh. Media sosial, seperti yang sering terjadi, tidak hanya memotret peristiwa, bahkan juga membentuk persepsi, juga kadang melampaui batas yang seharusnya dijaga.
Nah, muncullah tokoh yang bernama Amien Rais, tampil dalam sebuah konferensi pers. Menyampaikan pandangan yang mengundang perhatian, bukan hanya karena isinya, tetapi juga karena waktunya.
Di tengah situasi global yang sensitif, pernyataan-pernyataan seperti ini sering kali menimbulkan pertanyaan yang lebih luas daripada sekadar apa yang diucapkan. Masak Teddy itu gay? Kayaknya lebih pada fitnah sih.
Tapi kok Amin Rais yang muncul? Hmmmmmm gak mungkin ini tanpa data kan? Mungkin juga bagian dari order Paman Sam lengkap dengan vidio seru mungkin? Ah entahlah, tapi yang jelas publik sadar bahwa selama ini doi memang bagian dari negara yang sedang istirahat dari menyerang negeri persi tersebut.
So, barangkali, di sinilah kita perlu berhenti sejenak, bukan untuk menghakimi, tetapi untuk memahami.
Bahwa dalam pusaran politik global, setiap peristiwa bisa memiliki banyak lapisan. Apa yang tampak di permukaan belum tentu sepenuhnya menggambarkan yang terjadi di dalam. Tapi juga tak mungkin terjadi begitu saja bukan?.
Dan mungkin, sikap paling bijak bagi kita bukanlah tergesa-gesa menyimpulkan, melainkan merawat kejernihan agar tidak mudah terombang-ambing oleh narasi, sekaligus tetap peka terhadap arah yang sedang dibentuk oleh zaman.
Semoga Amin Rais tetap sehat semangat dan aman tanpa kejadian seperti penyiraman air keras juga lain-lainnya, karena vidio hasil pres konferennya sudah di hilangkan dari peredaran.
Semoga Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak gaduh.
Sudah ah, tulisan ini jangan terlalu panjang, ngeri ih.